Laman

Selamat Datang...

Berbagi isi hati dan pemikiran...
Berbagi asa untuk mencapainya bersama untuk sebuah kemajuan...

Minggu, 01 Maret 2009

Ilmu Pengetahuan, Agama dan Akhlak

Ilmu Pengetahuan, Agama dan Akhlak:

“Menuju Ilmu Pengetahuan Sejati”

(Pemikiran Al Ghazali Bag.1)*

Perpaduan ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak dikonsepkan oleh Al Ghazali sebagi al ma’rifah. Al Ghazali menerangkan jalan menuju ma’rifah sebagai kerinduan rohani untuk mengenal Tuhan dengan hati nurani melalui tingkat-tingkat ilmu pengetahuan. Al ma’rifah menjadi tingkat yang tertinggi di dalam pengetahuan dan kesadaran rohani manusia terhadap Tuhan.

Al Ghazali mengemukakan hubungan yang erat dan tak terpatahkan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak. Hubungan inilah yang sedang dicari kembali dalan dunia ilmu pengetahuan modern terutama dalam bahasan mengenai islamisasi ilmu pengetahuan. Mengingat adanya kebutuhan kembali pada agama karena perkembangan jiwa manusia yang semakin lama semakin memprihatinkan, bahasan mengenai mengenal Tuhan lewat ilmu pengetahuan adalah tema yang penting. Manusia modern dinilai telah sangat rasional. Maka, ilmu pengetahuan sudah selayaknya menjadi jalan utama mengenal Tuhan, untuk menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna.

Al Ghazali mengemukakan adanya empat tingkatan akal manusia. Empat akal tersebut antara lain:

  1. Akal yang berarti “kecerdasan”. Akal dimiliki oleh setiap manusia yang membedakan dia dengan hewan dan makhluk lainnya. Makna akal inilah yang secara umum dipakai oleh orang kebanyakan. Akal inilah yang dibawa oleh manusia sejak lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup.
  2. Akal yang berarti “pengertian”. Akal ini mulai tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan dan berkembang sejak ia kanak-kanak sampai menjadi orang dewasa. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah, baik dan buruk, tercela maupun terpuji.
  3. Akal yang berarti “pengetahuan”. Akal ini timbul karena pengajaran dan pengalaman di mana seorang manusia telah menyelidiki dan mempelajari segala sesuatu dengan seksama. Akal inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan seperti yang kita saksikan saat ini.
  4. Akal yang berarti “ma’rifah”. Akal ini merupakan puncak dari segala tingkatan akal, yaitu keinsyafan rohani manusia yang menyadari akibat sesuatu dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak, serta memimpinnya pada Tuhan yang setinggi-tingginya. Akal inilah yang mencerminkan perpaduan antara ilmu pengetahuan dengan agama dan akhlak.

Tingkatan akal ini kemudian digambarkan oleh Dr. M. Musthafa Helmi dalam pembagian manusia dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Iman kaum awam, yaitu kepercayaan (keagamaan) orang-orang yang hanya berdasarkan kepada keterangan-keterangan yang diberikan oleh orang lain, bukan hasil penyelidikannya sendiri.
  2. Iman kaum ulama, yaitu kepercayaan yang timbul dari hasil penyelidikan ilmu pengetahuan, dan inilah golongan ahli-ahli pengetahuan.
  3. Iman kaum arifin, yaitu kepercayaan yang memancar dari keyakina orang yang ruhaninya terbuka kepada Tuhan dan memegang teguh moral dan akhlak.

Konsep tentang ma’rifah menjadi dasar penjelasan Al Ghazali dalam teorinya tentang “ilmu pengetahuan yang sejati”. Ia mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan tanpa amal adalah gila, sedangkan amal tanpa ilmu adalah tidak sah. Ilmu pengetahuan semata-mata tidak menjauhkan dari berbuat dosa dan kejahatan, dan tidak pula mendekatkan kepada perbuatan taat dan kebaikan sewaktu hidup di dunia. Sedangkan untuk akhirat, ilmu itu tidak sanggup membebaskan manusia dari hukuman neraka.

Al Ghazali menegaskan bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat arifin atau ma’rifah adalah mereka yang menyatupadukan ilmu pengetahuan dengan keimanan (agama), sehingga mereka memiliki hasrat untuk beramal dengan sesungguhnya dan mewujudkan pendidikan akhlak.

Di dalam ma’rifah memancar niat yang ikhlas dan kemauan yang kuat, yang menjadi pokok pangkal bagi amal dan akhlak. Orang-orang yang demikian:

  1. Pertama kali akan tergambar di dalam cara berpikirnya.
  2. Kemudian mereka memiliki hasrat untuk menghadiri majelis-majelis pengajian.
  3. Mereka bergaul dengan orang baik-baik.
  4. Mereka merundingkan segala sesuatu dengan musyawarah.
  5. Kemudian dalam diri mereka terbentuk amal-amal yang baik dan akhlak yang tinggi.

Untuk mencapai hakikat ma’rifah ini, Al Ghazali mengemukakan adanya lima macam timbangan yang dianjurkan untuk digunakan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya untuk mencerdaskan dan memperkuat iman. Kelima tiimbangan itu yaitu:

  1. Perbandingan yang besar (akbar) yang didasarkan pada pemikiran dan ilmu pengetahuan.
  2. Perbandingan yang menengah (awsath) yang didasarkan kepada pengalaman.
  3. Perbandingan yang kecil (ashgar) yang didasarkan kepada panca indera.
  4. Timbangan kemestian (talazum) yang didasarkan kepada suatu kebenaran yang dapat ditimbulkan oleh intuisi.
  5. Timbangan pertentangan (ta’arudh) yang didasarkan pada pertentangan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk menimbulkan kebenaran (sintesa).

Dalam kelima rangka tersebut, dibuka kesempatan yang sangat luas untuk menggunakan pikiran dan contoh-contoh perbandingan, dan kepatuhan kepada pemimpin. Dalam hal ini, sumber pikiran tertinggi adalah Al Quran dan pemimpin yang harus ditaati adalah Nabi Muhammad SAW yang manjadi contoh amal dan akhlak yang utama.

*Tulisan ini merupakan ringkasan buku “Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Gazali” karya H. Zainal Abidin Ahmad (1975).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar